Outbound Pemuda Lintas Agama Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Surabaya
Pada tanggal 22 November, Taman Hiburan Pantai Kenjeran Surabaya menjadi titik perjumpaan baru bagi para pemuda lintas agama yang datang dari berbagai penjuru kota. Bukan untuk berdebat, bukan untuk membahas perbedaan, tetapi untuk bergerak bersama dalam sebuah kegiatan outbound yang dirancang khusus oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surabaya, dengan dukungan penuh dari Bakesbangpol Surabaya.
Sejak pagi, area kegiatan dipenuhi suasana antusias. Para peserta datang dengan identitas masing-masing agama, komunitas, latar belakang, serta cara pandang yang mungkin tidak sama. Namun begitu permainan dimulai, identitas itu berubah menjadi satu kesamaan sederhana: mereka semua adalah anak muda Surabaya yang ingin hidup rukun dan bekerja sama.
Outbound ini tidak sekadar permainan fisik. Setiap sesi dirancang untuk mengajak peserta memahami bagaimana kerja sama, komunikasi, dan saling percaya dapat tumbuh meskipun berada dalam keberagaman. Aktivitas team building membuat mereka harus berdiskusi, menyusun strategi, serta menyelesaikan tantangan bersama. Tidak jarang gelak tawa mengisi suasana, terutama ketika kelompok mengalami kesulitan namun berhasil menaklukkannya melalui kolaborasi.
Selain itu, instruktur juga menyisipkan nilai-nilai penting mengenai toleransi dalam berbagai momen kegiatan. Peserta diajak menyadari bahwa keberagaman bukan halangan untuk bekerja sama, justru menjadi modal yang memperkaya cara berpikir dan pola penyelesaian masalah. Sikap saling menghargai muncul secara natural ketika setiap individu menyadari bahwa kontribusi kecil dari siapa pun dapat memberikan dampak besar bagi kelompok.
Program outbound ini menjadi salah satu cara FKUB Surabaya memperkuat hubungan antarpemuda dari berbagai agama. Dengan Bakesbangpol sebagai wadah pelaksana, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang belajar sosial yang inklusif.
Pada akhir kegiatan, para peserta saling bertukar cerita, kontak, bahkan rencana untuk bertemu kembali. Di titik ini, pesan utama outbound terasa jelas: membangun kerukunan tidak harus dimulai dari forum besar atau seminar formal, tetapi dapat tumbuh dari interaksi sederhana yang memberi ruang bagi kebersamaan. Outbound Pemuda Lintas Agama ini menjadi bukti bahwa Surabaya memiliki generasi muda yang mampu menjaga perbedaan tanpa menjadikannya jarak. Mereka pulang membawa pengalaman, relasi baru, dan perspektif yang lebih luas modal penting untuk menjaga kota ini tetap harmonis di tengah keberagaman.
Sejak pagi, area kegiatan dipenuhi suasana antusias. Para peserta datang dengan identitas masing-masing agama, komunitas, latar belakang, serta cara pandang yang mungkin tidak sama. Namun begitu permainan dimulai, identitas itu berubah menjadi satu kesamaan sederhana: mereka semua adalah anak muda Surabaya yang ingin hidup rukun dan bekerja sama.
Outbound ini tidak sekadar permainan fisik. Setiap sesi dirancang untuk mengajak peserta memahami bagaimana kerja sama, komunikasi, dan saling percaya dapat tumbuh meskipun berada dalam keberagaman. Aktivitas team building membuat mereka harus berdiskusi, menyusun strategi, serta menyelesaikan tantangan bersama. Tidak jarang gelak tawa mengisi suasana, terutama ketika kelompok mengalami kesulitan namun berhasil menaklukkannya melalui kolaborasi.
Selain itu, instruktur juga menyisipkan nilai-nilai penting mengenai toleransi dalam berbagai momen kegiatan. Peserta diajak menyadari bahwa keberagaman bukan halangan untuk bekerja sama, justru menjadi modal yang memperkaya cara berpikir dan pola penyelesaian masalah. Sikap saling menghargai muncul secara natural ketika setiap individu menyadari bahwa kontribusi kecil dari siapa pun dapat memberikan dampak besar bagi kelompok.
Program outbound ini menjadi salah satu cara FKUB Surabaya memperkuat hubungan antarpemuda dari berbagai agama. Dengan Bakesbangpol sebagai wadah pelaksana, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang belajar sosial yang inklusif.
Pada akhir kegiatan, para peserta saling bertukar cerita, kontak, bahkan rencana untuk bertemu kembali. Di titik ini, pesan utama outbound terasa jelas: membangun kerukunan tidak harus dimulai dari forum besar atau seminar formal, tetapi dapat tumbuh dari interaksi sederhana yang memberi ruang bagi kebersamaan. Outbound Pemuda Lintas Agama ini menjadi bukti bahwa Surabaya memiliki generasi muda yang mampu menjaga perbedaan tanpa menjadikannya jarak. Mereka pulang membawa pengalaman, relasi baru, dan perspektif yang lebih luas modal penting untuk menjaga kota ini tetap harmonis di tengah keberagaman.